saya baru saja makan, dan sekarang, memaksakan diri untuk menulis sesuatu tentang makan.
juga karena setelah sekian lama tidak menulis apapun disini.
dan tiba-tiba saya teringat ini: quotes taiko
ketika masih mahasiswa.. saya terlalu iseng melamunkan segala sesuatu, beberapa orang mungkin menganggapnya berlebihan. termasuk memikirkan soal makanan.
kita sering mendengar hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup. tapi itu klise sekali.
suatu hari tanpa sengaja membaca kisah sokrates, yang pernah berpikir keras beberapa hari, di alam terbuka, hingga tanpa disadari tubuhnya telah tertimbun tumpukan salju. dan teman-temannya mengheraninya: dia tidak makan apapun selama itu, juga tidak bergerak.
dalam keisengan, saya sering menunda makan tanpa alasan, dan menolak ajakan makan dengan berkata: "kamu sebenarnya belum bener-bener lapar deh," atau jika sedang tertarik menghadapi kebertele-telean sebuah percakapan maka saya akan bilang, "kamu terlalu menganggur, dan mengisi waktu dengan makan, pekerjaan yang kamu senangi..' Dan pada diriku sendiri, aku bilang, "aku belum akan pingsan, dan tak akan ada masalah dengan menunda makan, aku belum perlu mempersiapkan cadangan tenaga."
itu dulu.. dan perlu usaha mengingatnya untuk menulis ini.
sekarang, entah apa yang berubah, aku sudah tidak terlalu memikirkannya..
ya makanan. ketika kita berpikir makan untuk hidup, maka makan adalah usaha menghindari kematian. dan dengan menolak hidup untuk makan, maka hidup itu memiliki tujuan yang lebih khusus. tujuan khusus yang diyakini para samurai contohnya. akan sulit mencari manusia yg tegas menyatakan dirinya hidup untuk makan. mungkin, cara mudah membahasnya adalah dengan mamaksakan kelompok yg sepertinya memiliki pola yang cukup terlihat hidup untuk makan. cara yg lebih mudah lagi adalah manusia yg tidak memikirkan sama sekali tujuan hidup.
oh ya, yang sempat terpikirkan tempo hari, tentang penjahat, yang secara makro mungkin manusia yg lebih baik tidak makan. dan kehidupan manusia yg jika terjalani akan berguna secara keseluruhan tentu perlu didukung secara sosial melalui fasilitas bahan makanan. tapi tak ada yg benar2 bisa membuktikan pengelompokan manusia yang 'dilarang makan' dan 'didukung penuh untuk makan'. mungkin perlu pemonopoli makanan yang berkuasa absolut berpower yang secara mekanik melayani secara konsisten tawar menawar soal alokasi makanannya.
saat ini mungkin konsumsi bahan makanan terselenggara melalu jaringan kompleks 'ekonomi' yang juga meliputi gaji/bayaran, kepolisian, dan penjara.
tapi itu mungkin pemikiran yang terlalu pelik untuk diteruskan.. itu adalah pembicaraan yang terisolir, dimeja, dalam bahasa-bahasa, dan menjadi dialog locatan-loncatan pikiran yang secara lisan belum tentu terpahami, untuk selanjutnya diteruskan saja: saling menjawab..
jangankan larangan makan untuk orang-orang tertentu, atau setidaknya pembatasan kualitas dan jumlah makanan, setiap manusia memang akan menyatakan hak azasinya. dan lebih dari itu, pembahasan ini jika dilanjutkan memang terkesan menolak hasrat manusia untuk hidup dengan indah.
ketika individu tidak lagi sekedar memikirkan porsi makanan hariannya, dan tentu lebih dari itu: selera. resep dan penyajian tertentu adalah sebuah spesifikasi yang dapat dipilih untuk setiap orang. setiap orang yang masih menghembuskan nafas terlepas bagaimana pun kehidupannya. dan apa yg dapat menghentikannya? seperti yang kita alami bersama, jika makanan itu memang tidak terjangkau, dengan tau dirinya tentu kita akan pasrah begitu saja. atau sekedar memimpikannya, dan mengusahakan hal tertentu sebagai jalan untuk suatu saat dapat menikmatinya.






0 comments:
Post a Comment