dunia seperti memiliki mekanisme untuk menyeimbangkan kehidupan didalamnya. sepertinya juga, filsuf menjadikannya bahan untuk berpikir. menerjemahkannya, membuat konsep-kensep, dan membangun rancangan pemikiran. tentang hubungan segala sesuatunya, tentang segala perubahan, sekaligus hal abadi yang meliputinya. manusia yang memikirkan manusia. bangsa manusia memang punya bakat untuk mendalami dirinya sendiri. memikirkan dirinya sebagai manusia lain. jika coba melakukannya, akan terasa tidak semudah ketika memulainya. bagaimana tidak, seperti sesuatu yang aneh, membawa alam jamak manusia kedalam alam dirinya. ya, mahluk yang luar biasa. kemampuan konseptualnya tak dimiliki mahluk dunia yang lain. seperti kausalitas, paradoks, hal-hal yang berkenaan dengan operasional, metafisika, dan hal-hal lain yang kemudian berkembang melalui penalaran. dan sepertinya semua tetap bergantung perubahan yang terjadi di dunia. perubahan yang kemudian kembali menjadi bacaan-bacaan, dalam kemampuan pikiran yang khas tersebut, hingga dikaitkan dengan sejarah. ketika perubahan den keabadian diyakini secara bersamaan, apalah jadinya.. tapi memang begitulah adanya.
jauh didalam, seorang manusia membangun harapan tentang dirinya. sesuatu yang biasanya tidak berhubungan dengan siapa pun. yaitu sebuah gambaran yang terlayar dibenak, dan membuatnya menghadapi sebuah keinginan. alam-alam yang tidak kentara dan hanya dibicarakan secara diam-diam. keberanian mengakui keberadaannya kemudian menghasilkan masalah tersendiri. sebuah lahan subur untuk lahirnya asumsi-asumsi dan pikiran lanjutannya. tapi hal tersebut sepertinya akan tetap bermanfaat meski hanya melalui kegiatan dialog yang mendalam.
tentang keadilan yang saya pikirkan, misalnya saja, bukankah tidak semua manusia berharap terwujudnya kesenjangan tidak terlalu besar? saat itu dirinya kadang tidak perlu mempertimbangkan gambaran manusia secara umum ketika dihadapkan pada masalah dirinya. maksud saya, seorang manusia mengambil keputusan berdasarkan imajinasi alam pikir dirinya. dan saat itu tidak hadir pertimbangan gambaran yang lebih umum tentang martabat manusia, kebutuhan dasar, dan proyeksi umum lain mengenai manusia. sepertinya, kemudian, dinamikanya menghadirkan alam manusia yang memiliki semangat imajinasi heroik. tentang keadilan yang berbenturan dengan kenyataan dunia. dengan kriminalitas, kemiskinan, dan kebodohan.
manusia membangun budaya. dan dengannya pula kita dapat melihat nuansa permainan untuk dimaklumi. sesaat kita tegang, yang silih berganti. ketegangan yang menjadikan manusia perorangan seperti merasa berada dalam putaran roda. menjadi tertekan dalam keinginan, bersamaan merasakan yang terjadi. baik yang sesuai dengan seharusnya maupun yang tidak secara seharusnya. kelalaian dunia kadang terasa menyenangkan, kadang menyakitkan. meski begitu semua tetap terpelihara dengan baik dan memancing gejolak yang terlalu berlebihan. ekspresi simpati akan selalu hadir, kita mengembangkannya tiap hari. karena kenyataan tidak selalu terbangun dan dapat dipahami secara objektif. yang kadang hanyalah sebuah kesepakatan yang terbentuk secara sedemikian rupa. bahkan dalam sekularitas budaya. kespontanan sikap memelihara dunia. dan alam masyarakat manusia seperti tidak benar-benar tersentuh dengan alam pikiran. ketika kita meyakini seseorang menjalani kepedihan yang mendalam dalam sebuah harapan yang baik, kita seperti dituntut untuk menghargainya. dan itu terasa, dan seperti, sesuatu yang normatif.
entahlah...






0 comments:
Post a Comment