kadang kata 'idealis' melulu merujuk pada sesuatu yang serius. dan, disini, saya tidak bermaksud untuk membicarakannya terlalu serius. karna, seperti bisa terbayangkan, memang bisa dibicarakan dengan ringan saja. bolehkah?
selalu lahir kesan, pembicaraan idealisme adalah sebuah perhentian bagi para manusia yang menyukainya, yang membicarakannya. mereka seperti berbincang tentang hidup secara berkesudahan. dan itu memang menarik sekali. seperti saat kebijaksanaan bermekaran dan memenuhi ruang, melayang bersama udara.
sayangnya, bersamaan, ada kesan ketidak-toleranan disana. seperti yang terpikir sebelumnya, sering kali idealisme hanyalah sebuah tempat pemberhentian. mengerti yang kumaksud? sebuah kenyataan tunggal mungkin telah memaksa seseorang untuk tidak membicarakan idealisme sepanjang waktu. dan dengannya, ia kemudian menampilkan idealisme hanya pada waktu yang ia mau.
...dan begitutulah jalannya dunia. itu menariknya.
pandangan idealisme akan bersentuhan dengan ketidaksempurnaan, ragam idealisme. dan, kemudian, apalah jadinya..
ideal kadang memang tidak toleran. dan jeleknya, kadang membuat manusianya pongah. seperti membuat kita berpikir ada sesuatu yang tak terpahami disana. maksud saya, manusianya jelas manusia terhormat, dan minta juga diperlakukan secara terhormat menurut idealnya... semoga tuhan akan menyertai dirinya, dan memberikan kenyataan yang baik baginya. karna manusia idealisme memang berguna karena memelihara nilai-nilai yang cukup baik, penuh penghormatan, di dunia.
mungkin seperti juga, para pelajar yang membangun nilai idealnya, dan menjalani hidup yang puitis. dan, mungkin, dengan sangat baik mengujikannya: menjalaninya. terlihat sangat mengesankan. tapi juga seringkali terlihat begitu sja ditanggalkan pada kemudian hari. maksud saya, mencoba untuk melupakannya. dan membuatku berpikir, ada sesuatu yang salah dengan idealismenya kemarin hari.
tapi selamanya, saya mungkin dengan mudah paham, dan tak akan pernah berpikir atau pun bicara, 'ada yang salah dengan orang idealis.' walaupun akan menjadi sikap yang bagiku terasa membosankan. saya menyukai kebijaksanaan, tapi suka mendengar. bersamaan, tidak pernah tertarik mendengarkan idealisme seseorang.
saya pikir, seseorang seharusnya lebih menyukai bekerja sama untuk tujuan yang cukup ideal. sesuatu yang mungkin bisa apa saja, yang kadang tidak bersesuaian dengan 'gaya citra ideal'nya. sebaliknya. bukankah akan aneh sikap dan pandangan idealis yang disimpan sesaat menjadi tempat pemberhentian. dan untuk kenyataan yang ada, rela melakukan sesuatu yang menanggalkan sendiri nilai idealnya. dan dengan terpeliharanya sedikit pandangan ideal, ia pun menjadi idealis yang tak akan suka jika dipersamakan dengan setiap yang lain. itu terbayang cukup merepotkan. seperti manusia yang meminta privilege hanya karna pandangan yang dipahaminya, walau tidak terjalani secara sebenarnya.
ini tampak seperti meracau, tapi, bukankah manusia dan seisinya memang hidup dalam kenyataan yang sama, maksud saya bukan hidup yang sama tapi dunia yang sama. jadi, sepertinya, sudah seharusnya, idealisme berujung kesana, berjalan kesana dengan cara yang entah apa itu..






0 comments:
Post a Comment